Indonesia sebagai Predisen DK PBB
Pers Release
No. 094/SK/HRWG/X/2007
Indonesia sebagai Presiden DK PBB.
Diantara Prestasi , harapan dan menjadi “kambing Hitam”
Mulai 1 Nov 2007 besok Indonesia resmi sebagai Presiden DK PBB. Satu posisi yang strategis untuk mengkoordinasikan anggota DK PBB dalam merespon perkembangan politik dunia. Disamping sebagai kehotmatan , posisi ini juga melahirkan tantangan , terutama atas pilihan politik Indonesia dalam ikut serta menciptakan perdamaian dunia dengan menjunjung tinggi nilai HAM dan demokrasi.
Tantangan ini tercermin dalam dinamika internasional yang terjadi dan menjadi isu strategis didunia yaitu , penyelesaian Burma dan konflik timor tengah. Selain itu juga tantangan atas perbedaan kepentingan politik yang tajam di dalam Internal DK PBB sendiri.
Pertama. Dalam kasus Burma. Indonesia sebagai salah satu negara penting ASEAN memiliki pengaruh kuat untuk maksimalisasi proses perdamaian. Indonesia dapat mendorong sinergi antara PBB dan ASEAN dalam menentukan pola pendekatan dan jalan keluar krisis Burma.
Kedua Krisis Timur Tengah. Indonesia juga sebagai Negara yang memiliki relasi dan ikatan cukup kuat, terutama karena negara mayoritas Islam terbesar dan anggota OKI yang memiliki pengaruh. Dalam konteks ini Indonesia memiliki kesempatan strategis untuk mengkoordinasikan politik internasional di bawah PBB untuk merespon dengan model dan pendekatan baru. Peran yang diambil adalah mensinergikan OKI dan PBB untuk proses perdamaian dan mendorong pendekatan baru yang tidak berbasis pada pendekatan Keamanan.
Namun kedua hal diatas dapat direalisir manakala Prinsip Politik Internasional Indonesia juga di ubah.
Pertama. Dalam penyelesaian BURMA, Indonesia harus menanggalkan gaya lama atas nama ASEAN yang selalu berlindung dibalik jargon “ASEAN WAY” . Jargon tersebut jauh dari prinsip demokratis dan berseberangan dengan kaidah Internasional. Posisi Indonesia sebagai ASEAN yang menjalankan ASEAN WAY dan posisi sebagai Presiden DK PBB akan menyulitkan Indonesia sendiri. Jika Indonesia tidak merubah gaya ASEAN tersebut yang merupakan model pendekatan warisan dari kediktatoran Presiden Soeharto dan Presiden Singapura LEE Kwan Zhu.
Kedua, menanggalkan gaya politik “sektarian’ atas respon perkembangan krisis Timur Tengah. Indonesia harus berani tampil dengan menanggalkan politik Sektarianisnya yang selama ini ditampilkan seperti respon terhadap krisis Israel dan Palestina yang selalu menggunakan pendekatan agama dalam responnya.
Jika kedua persyaratan di atas dapat dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, maka peran politik Indonesia di Internasional akan menjadi lebih baik. Dan maksimalisasi posisi Indonesia dalam DK PBB khususnnya ketika menjadi Presiden DK PBB akan tercapai dan menghasilkan atau prestasi yang sangat bagus.
Namun jika tidak ada perubahan gaya dan model pendekatan politik Internasional yang dilakukan, posisi Indonesia sebagai Presiden DK hanya akan jadi bumerang bagi nama baik dan kepentingan bangsa Indonesia sendiri . Malah akan jadi kambing hitam dalam setiap respon DK yang kontra produktif untuk penciptaan perdamaian dunia akibat kontradiksi kepentingan di Internal anggota DK.
Jakarta , 31 -10-2007
Rafendi Djamin
Koordinator





